Viktor Laiskodat : Jangan Ukur DPR dari Banyaknya Rapat
3 min read
JAKARTA, kupangmedia.net | Gedung parlemen bisa penuh rapat, tetapi belum tentu penuh dampak. Bagi Viktor Bungtilu Laiskodat, ukuran kerja DPR bukan sekadar berapa banyak undang-undang, rapat, atau keputusan yang dihasilkan. Ukurannya adalah apa yang berubah dalam kehidupan rakyat.
Anggota DPR RI dari Fraksi Partai NasDem itu menyampaikan pandangan tersebut dalam Rapat Paripurna Khusus HUT ke-81 DPR RI. Dalam rapat itu, Viktor menerima Laporan Kinerja DPR RI Tahun Sidang 2025–2026 sebagai Ketua Fraksi NasDem.
Peringatan HUT ke-81 DPR RI mengangkat tema “DPR RI Berdampak: Wujudkan Daulat Rakyat melalui Parlemen Modern, Demokratis, dan Responsif.”
Viktor mengatakan tema tersebut semestinya tidak berhenti sebagai slogan. Ia harus menjadi ukuran bagi DPR dalam menjalankan fungsi legislasi, anggaran, dan pengawasan.
“81 tahun perjalanan DPR RI adalah perjalanan panjang tentang bagaimana suara rakyat dibawa ke dalam ruang-ruang pengambilan keputusan negara,” ujar Viktor.
Persoalannya, menurut Viktor, bukan hanya apakah suara itu sampai ke ruang parlemen. Pertanyaan berikutnya adalah apakah suara tersebut benar-benar memengaruhi kebijakan.
Ia menilai setiap keputusan DPR pada akhirnya harus kembali kepada kepentingan masyarakat. Aspirasi rakyat harus terdengar, hak mereka terlindungi, dan kebijakan negara memberi jalan menuju kehidupan yang lebih sejahtera.
“Setiap keputusan yang lahir dari gedung parlemen pada akhirnya harus kembali kepada kehidupan rakyat,” katanya.
Kedaulatan Tak Berhenti di Bilik Suara
Bagi Viktor, demokrasi tidak selesai ketika pemilih meninggalkan bilik suara. Kedaulatan rakyat justru diuji setelahnya—ketika kebijakan negara menyentuh kehidupan sehari-hari.
Petani, kata dia, harus memperoleh ruang untuk berkembang. Nelayan membutuhkan perlindungan. Anak-anak berhak mendapatkan pendidikan yang layak. Keluarga harus memiliki kesempatan hidup secara bermartabat.
“Kedaulatan rakyat tidak berhenti pada suara yang disampaikan di bilik suara. Kedaulatan itu harus terasa dalam kehidupan sehari-hari,” ujar Viktor.
Karena itu, ia mendorong DPR lebih responsif terhadap persoalan masyarakat. Parlemen modern, menurut dia, bukan hanya soal teknologi dan pembaruan tata kelola kelembagaan. Yang lebih penting adalah kemampuan mendengar suara publik dan menerjemahkannya menjadi kebijakan.
Rapat Banyak, Dampak Harus Terlihat
Viktor mengatakan kerja DPR perlu memiliki hubungan yang jelas dengan kebutuhan rakyat. Produk legislasi dan keputusan politik, menurut dia, semestinya dapat dilihat manfaatnya di tengah masyarakat.
“Perjalanan DPR RI ke depan harus terus diukur dari dampak,” katanya.
Ukuran itu mencakup kemampuan parlemen menjawab persoalan masyarakat, menghasilkan kebijakan yang adil, serta memastikan negara hadir ketika rakyat membutuhkan.
Tuntutan tersebut datang ketika persoalan masyarakat dan perubahan lingkungan strategis nasional maupun global semakin kompleks. Bagi Viktor, kondisi itu membuat DPR tidak cukup hanya bekerja secara rutin.
Parlemen harus mampu membaca perubahan dan meresponsnya.
81 Tahun, Bukan Sekadar Angka
Usia 81 tahun bagi DPR RI, menurut Viktor, merupakan perjalanan sejarah panjang. Namun, usia tersebut tidak otomatis menjadi ukuran keberhasilan lembaga legislatif.
Yang lebih penting adalah apa yang dikerjakan DPR untuk masyarakat hari ini dan generasi berikutnya.
“81 tahun adalah perjalanan sejarah. Namun, makna terpenting dari perjalanan itu terletak pada apa yang mampu kita kerjakan untuk rakyat hari ini dan untuk generasi yang akan datang,” katanya.
Sebagai Ketua Fraksi NasDem, Viktor mengatakan kepentingan rakyat harus tetap menjadi orientasi kerja parlemen. Fraksi NasDem, kata dia, akan mengambil bagian dalam upaya membangun parlemen yang demokratis, responsif, dan menghasilkan dampak nyata.
Pada akhirnya, menurut Viktor, legitimasi parlemen tidak berhenti pada proses pemilihan. Mandat politik itu harus dibayar dengan kerja yang dapat dirasakan masyarakat.
Sebab, bagi dia, suara rakyat baru benar-benar memiliki arti ketika suara itu hadir dalam keputusan yang menentukan masa depan bangsa.
