Wakil Bupati Aurum Titu Eki Terima Kungker Pimpinan DPRD Sumba Tengah
2 min read
OELAMASI, kupangmedia.net | Di tengah geliat pencarian sumber-sumber ekonomi baru di kawasan timur Indonesia, komoditas garam kembali menemukan momentumnya. Selasa,( 24/2), ruang kerja Wakil Bupati Kupang menjadi tempat bertemunya dua kepentingan daerah: pengalaman dan harapan.
Wakil Bupati Kupang Aurum O. Titu Eki menerima kunjungan kerja pimpinan DPRD Kabupaten Sumba Tengah yang dipimpin Ketua DPRD Arpud Umbu Mangalema, bersama Wakil Ketua I Ignatius Umbu Tiba dan Wakil Ketua II Eman Jurumana. Kunjungan itu bukan sekadar silaturahmi antarlembaga, melainkan studi konkret tentang bagaimana sebuah daerah pesisir mengelola potensi garam hingga menjadi sumber pendapatan.
Dalam sambutannya, Aurum menyebut kunjungan tersebut sebagai “itikad baik” yang layak diapresiasi. Kabupaten Kupang, katanya, terbuka untuk berbagi pengalaman—termasuk tentang jatuh bangun mengelola tambak garam.
“Kalau pengalaman kami bisa menjadi berkat bagi daerah lain, tentu itu hal yang patut disyukuri,” ujarnya.
Kabupaten Kupang dan Kabupaten Sumba Tengah, menurut Aurum, memiliki kemiripan karakter wilayah. Bedanya, Kupang memiliki bentang geografis lebih luas dengan ragam potensi yang sudah lebih dulu diuji, termasuk produksi garam. Namun, ia tak menutup fakta bahwa produksi garam di Kupang pun belum sepenuhnya optimal.
Komoditas yang kini menjadi salah satu sorotan di Provinsi Nusa Tenggara Timur itu, diakui Aurum, melewati proses panjang sebelum benar-benar bisa berkontribusi terhadap Pendapatan Asli Daerah (PAD). Ada dinamika sosial, resistensi warga, hingga persoalan komunikasi yang tak selalu mulus.
“Salah satu tantangan terbesar adalah membangun komunikasi dengan masyarakat sekitar. Dalam proses itu, persetujuan dan penolakan datang silih berganti,” katanya.
Pernyataan itu menegaskan bahwa pengelolaan sumber daya bukan semata urusan teknis produksi, tetapi juga soal legitimasi sosial dan keberterimaan publik.
Bagi rombongan dari Sumba Tengah, pengalaman Kupang menjadi referensi penting. Ketua DPRD Sumba Tengah, Arpud Umbu Mangalema, menyampaikan apresiasi atas keterbukaan Pemerintah Kabupaten Kupang. Ia menyebut Kupang sebagai salah satu sentra produksi garam yang dinilai cukup berhasil di NTT. “Kami ingin belajar prosesnya—bagaimana kerja sama dengan perusahaan, tokoh masyarakat, hingga perizinan dan investasi bisa berjalan,” ujar Arpud.
Kabupaten Sumba Tengah sendiri, kata dia, belum memiliki fasilitas pengelolaan garam yang memadai. Padahal, terdapat dua lokasi yang dinilai potensial. Kawasan pantai selatan menyimpan peluang, namun telah lebih dulu diarahkan sebagai sentra pariwisata dan masih terisolasi secara infrastruktur. Sementara kawasan utara telah melalui survei dan kajian awal, meski belum masuk tahap pengembangan.
Di balik diskusi teknis tentang investasi dan perizinan, terselip ambisi yang lebih besar: pemberdayaan masyarakat pesisir. Garam dilihat bukan sekadar komoditas, melainkan pintu masuk bagi penguatan ekonomi lokal.
Pertemuan itu turut dihadiri Asisten Perekonomian dan Pembangunan Setda Kabupaten Kupang Charles Banamtuan serta Kepala Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu Juhardi David Selan. Diskusi berlangsung dalam suasana terbuka, lebih menyerupai ruang berbagi pengalaman ketimbang forum formal birokrasi.
Kunjungan ini menunjukkan satu hal: di tengah keterbatasan fiskal daerah, kolaborasi antarkabupaten menjadi strategi rasional. Jika pengalaman Kupang bisa direplikasi, tentu dengan penyesuaian sosial dan geografis, maka garam tak lagi sekadar kristal putih di pesisir, melainkan simbol ketahanan dan kemandirian ekonomi lokal di Nusa Tenggara Timur.
