Duka di Kampung Dona & Permintaan Maaf Negara atas Kepergian Adik YB
2 min read
NTT, kupangmedia.net | Kematian adik YB (10) di Kampung Dona, Desa Naruwolo, Kecamatan Jerebuu, Kabupaten Ngada, meninggalkan duka yang melampaui batas satu keluarga. Tragedi ini menjelma luka kolektif sekaligus cermin pahit tentang negara dan pemerintah daerah yang belum sepenuhnya hadir bagi anak-anak paling rentan di pelosok NTT
Sabtu,( 7/2) siang, Gubernur Nusa Tenggara Timur Melki Laka Lena datang langsung ke rumah duka. Didampingi Bupati Ngada Raymundus Benda, Wakil Bupati Ngada Bernadinus Dhey Ngebu, Bupati Nagekeo Simplisius Donatus, serta jajaran Pemerintah Provinsi NTT, Melki menyapa keluarga almarhum dalam suasana hening. Tak banyak kata terucap, selain rasa kehilangan yang terasa nyata di hadapan ibu, nenek, dan kakak YB.
Di hadapan keluarga korban, Melki menyampaikan permohonan maaf bukan sekadar sebagai pejabat, tetapi sebagai representasi negara. Ia mengakui adanya kelalaian pemerintah dalam memastikan perlindungan, pendidikan, serta bantuan sosial benar-benar menjangkau anak-anak yang hidup dalam kondisi paling rapuh. “Peristiwa ini menjadi introspeksi yang sangat dalam, bagi saya pribadi dan bagi seluruh jajaran pemerintah,” ujar Melki dengan suara tertahan.
Kepergian YB disebut Melki sebagai peringatan keras bagi semua pihak. Anak-anak, katanya, tidak boleh merasa sendirian, tidak boleh diabaikan, dan tidak boleh kehilangan harapan hanya karena kemiskinan serta jauhnya jangkauan layanan negara. Tragedi ini mengguncang nurani dan menuntut perubahan cara kerja pemerintah, agar lebih peka, lebih cepat hadir, dan lebih bertanggung jawab.
Melki menegaskan seluruh aparatur pemerintah di NTT harus bekerja lebih serius, memastikan pendidikan, bantuan sosial, dan layanan publik benar-benar menyentuh masyarakat yang paling membutuhkan. “Kita mungkin memiliki banyak keterbatasan, tetapi kepedulian tidak boleh terbatas,” katanya.
Adik YB telah pergi sebelum sempat tumbuh dan menggantungkan mimpi lebih jauh. Namun kepergiannya meninggalkan pesan yang tak boleh diabaikan: tentang empati, tentang kehadiran negara, dan tentang kerja pemerintahan yang dilakukan dengan hati. Bagi Melki, duka ini harus menjadi cambuk agar negara bekerja lebih adil dan lebih manusiawi ke depan.
Tragedi di Kampung Dona bukan semata kisah kehilangan seorang anak. Ia adalah pengingat keras tentang tanggung jawab bersama agar tak ada lagi anak yang tumbang dalam sunyi, jauh dari perhatian negara.
