Tais, Laut, dan Persaudaraan : Pesan Budaya dari Festival Fronteira 2026
3 min read
DILI, kupangmedia.net | Perdana Menteri Timor-Leste Kay Rala Xanana Gusmão resmi membuka Festival Fronteira 2026 pada Jumat (23/10). Prosesi pengalungan tais, kain tenun tradisional Timor, dan selendang kepada para tamu undangan menjadi simbol pembuka festival yang tidak hanya merayakan kebudayaan, tetapi juga memperkuat persaudaraan masyarakat di kawasan perbatasan Indonesia dan Timor-Leste.
Dalam tradisi masyarakat Timor, tais bukan sekadar kain tenun. Ia menyimpan identitas, nilai penghormatan, ingatan kolektif, serta warisan pengetahuan yang diwariskan lintas generasi. Karena itu, penyerahan tais dalam pembukaan Festival Fronteira memiliki makna lebih luas: budaya menjadi bahasa persahabatan yang mampu melampaui batas geografis dan pengalaman sejarah.
Penerimaan tais secara simbolis dari Xanana Gusmão diwakili Felisberto Amaral, Ketua Delegasi Forum Komunikasi Pejuang Timor-Timur (FKPTT), dan Antonio Doutel, yang dikenal sebagai Jerman, dari Gerakan Generasi Manatuto di Kupang.
Suasana keakraban terlihat sejak awal kegiatan. Xanana Gusmão duduk berdampingan dengan 20 anggota delegasi FKPTT. Kehadiran delegasi tersebut disambut hangat oleh pemerintah dan masyarakat setempat, mencerminkan ruang perjumpaan yang terbuka bagi dialog, persahabatan, dan penguatan hubungan antarmasyarakat di kedua wilayah.
Di tengah perbedaan batas negara dan perjalanan sejarah yang tidak sederhana, perjumpaan semacam ini menghadirkan pesan penting bahwa warisan budaya dapat menjadi titik temu. Identitas yang berakar pada sejarah bersama tidak harus berhenti sebagai kenangan, tetapi dapat menjadi landasan membangun masa depan yang lebih damai.
Dalam kapasitasnya sebagai pembicara utama, Xanana Gusmão mengajak para delegasi dan tamu undangan membahas pengembangan ekonomi biru melalui tema “Konsep Ekonomi Biru: Hau Nia Tasi – Hau Nia Timor.” Tema tersebut menempatkan laut sebagai ruang kehidupan, sumber penghidupan, sekaligus bagian penting dari identitas masyarakat Timor.
Pengembangan ekonomi biru menjadi relevan bagi masyarakat pesisir yang menggantungkan kehidupan pada sumber daya laut. Namun, pembangunan berkelanjutan tidak cukup hanya berbicara tentang pertumbuhan ekonomi. Pelestarian lingkungan, pengetahuan lokal, tradisi masyarakat pesisir, dan pembagian manfaat yang adil juga perlu menjadi bagian dari arah pembangunan.
Dari Indonesia, pembukaan festival dihadiri Pelaksana Tugas Asisten II Bidang Ekonomi dan Pembangunan Provinsi Nusa Tenggara Timur Zet Sony Libing yang mewakili Pemerintah Provinsi NTT, Asisten I Setda NTT Alex Lumba, Kepala Biro Ekonomi Setda NTT Selfi Nange, serta perwakilan pejabat dari Maluku yang diwakili Camat Maluku Barat Daya.
Sementara dari Timor-Leste, hadir Menteri Administrasi Negara Tomás do Rosário Cabral, Menteri Kebudayaan Jorge Soares Cristóvão, Presiden Otoritas Kotamadya Lautém Mélio de Jesus, dan Presiden Otoritas Ataúro Mateus Belo. Sejumlah pimpinan otoritas daerah dari Dili, Covalima, Manufahi, Aileu, Ermera, Baucau, Bobonaro, Manatuto, Ainaro, dan Liquiçá turut menghadiri kegiatan tersebut.
Festival Fronteira 2026 juga membuka ruang bagi pembicaraan mengenai rekonsiliasi melalui dialog yang menghadirkan pengalaman penerapan mekanisme rekonsiliasi di Timor-Leste. Sesi tersebut difasilitasi Direktur Eksekutif AJAR Timor-Leste, José Luis de Oliveira.
Kehadiran agenda rekonsiliasi mempertegas bahwa festival budaya bukan semata-mata panggung pertunjukan atau ruang pameran. Festival juga dapat menjadi tempat masyarakat berbagi pengalaman, memahami luka masa lalu, dan membangun kepercayaan untuk kehidupan bersama yang lebih baik.
Rangkaian kegiatan yang diselenggarakan melalui kerja sama CNC!, AML, SEAK, dan MAE itu berlanjut dengan pementasan seni dan budaya hingga malam hari.
Pada akhirnya, pesan penting Festival Fronteira 2026 terletak pada makna kebudayaan yang hidup di tengah masyarakat. Tais yang dikenakan bukan hanya lambang penghormatan, melainkan pengingat bahwa persaudaraan perlu dirawat melalui dialog, penghargaan terhadap perbedaan, dan komitmen menjaga warisan leluhur.
Di perbatasan, budaya bukan sekadar peninggalan masa lalu. Ia adalah jembatan yang menghubungkan manusia, merawat ingatan, dan menumbuhkan harapan bagi masa depan yang damai.
