Takut Akan Tuhan & Kolaboratif : Rektor UPG 1945 NTT Paparkan Formula Lompatan Kampus Unggul
3 min read
NTT,kupangmedia.net | Rektor Universitas Persatuan Guru 1945 NTT (UPG 1945 NTT), Uly Jonathan Riwu Kaho, SP., M.Si., memaparkan visi kepemimpinannya dalam membangun UPG 1945 NTT menuju kampus unggul melalui tiga prinsip utama, yakni kepemimpinan yang takut akan Tuhan, perencanaan yang matang, serta kolaborasi lintas sektor. Prinsip tersebut ia rangkum dalam konsep yang disebut Tri Bajik Eka Cita.
Paparan itu disampaikan Uly kepada media di Kupang, Rabu (4/2), saat menjelaskan arah strategis pengembangan universitas pascapelantikannya sebagai rektor pada 7 Juli 2025.
Menurut Uly, kepemimpinan di dunia pendidikan tidak hanya ditentukan oleh kapasitas akademik, tetapi juga oleh nilai-nilai yang menjadi fondasi dalam pengambilan keputusan. Prinsip takut akan Tuhan, kata dia, merupakan pegangan etis agar pemimpin tetap berada pada jalur yang benar dalam mengelola institusi pendidikan.
“Banyak orang hebat secara akademik, tetapi ketika diberi kepercayaan memimpin, tidak sedikit yang kemudian menghadapi persoalan. Bagi saya, hidup dalam prinsip takut akan Tuhan adalah fondasi utama seorang pemimpin, terutama di dunia pendidikan,” ujarnya.
Uly menilai, ketika seorang pemimpin berpegang pada nilai tersebut, maka hikmat dan kebijaksanaan akan menyertai setiap keputusan yang diambil. Nilai itu pula yang menurutnya menjadi dasar bagi keberhasilan kepemimpinan jangka panjang.
Perencanaan sebagai Peta Jalan
Prinsip kedua dalam Tri Bajik Eka Cita adalah perencanaan yang baik dan terukur. Uly menekankan, setiap kepemimpinan harus memiliki arah yang jelas, dituangkan dalam dokumen perencanaan yang sistematis dan dapat dievaluasi.
Ia menjelaskan, UPG 1945 NTT telah memiliki Rencana Induk Pengembangan (RIP) yang memuat visi jangka panjang pengembangan universitas hingga 25–30 tahun ke depan. Rencana tersebut kemudian dijabarkan dalam rencana strategis (Renstra) lima tahunan sebagai tahapan pencapaian yang realistis.
“Rencana induk itu adalah mimpi besar institusi. Dari sana kita turunkan ke dalam Renstra lima tahunan agar setiap langkah terukur, terarah, dan bisa dievaluasi,” katanya.
Uly menambahkan, pengalamannya di bidang perencanaan tata kelola perguruan tinggi menjadi modal penting dalam menyusun arah pengembangan universitas. Ia menilai, tanpa perencanaan yang jelas, kepemimpinan akan kehilangan orientasi dan sulit mencapai tujuan yang telah ditetapkan.
Prinsip ketiga yang ditekankan Uly adalah kolaborasi. Menurutnya, tidak ada pemimpin hebat yang bekerja sendiri. Keberhasilan institusi sangat ditentukan oleh kemampuan pemimpin membangun tim yang solid serta menjalin kerja sama dengan berbagai pihak.
“Orang disebut hebat bukan karena dia bekerja sendiri, tetapi karena dia mampu bekerja bersama tim yang hebat dan membuka ruang kolaborasi,” ujarnya.
Pendekatan kolaboratif ini, lanjut Uly, menjadi kebutuhan mendesak bagi UPG 1945 NTT untuk melakukan lompatan kemajuan setelah satu dekade kepemimpinan sebelumnya. Ia menegaskan, pengembangan yang dilakukan saat ini bukan memulai dari nol, melainkan melanjutkan dan mengembangkan fondasi yang telah dibangun oleh para rektor terdahulu.
Dalam konteks tridharma perguruan tinggi, Uly menempatkan riset dan pengabdian kepada masyarakat sebagai tolok ukur utama peningkatan mutu akademik. Ia menilai, proses pendidikan dan pengajaran harus berbasis pada riset yang dilakukan dosen serta pengabdian yang berdampak nyata.
“Ketika dosen mengajar berdasarkan riset yang telah dilakukan, maka pembelajaran menjadi hidup dan relevan. Dari situ lahir pengabdian kepada masyarakat,” katanya.
Ia menegaskan, seluruh aktivitas riset dan pengabdian perlu didokumentasikan dalam bentuk publikasi ilmiah pada jurnal bereputasi. Langkah ini dinilai penting untuk meningkatkan daya saing institusi sekaligus reputasi akademik dosen.
Uly menyebutkan, upaya tersebut mulai menunjukkan hasil dengan meningkatnya skor SINTA UPG 1945 NTT dari sekitar 1.000 menjadi hampir 10.000. Tahun ini, universitas menargetkan skor tersebut dapat meningkat hingga 20.000–30.000.
Penguatan SDM dan Akses Pendidikan
Selain riset, penguatan sumber daya manusia dosen menjadi perhatian utama. Uly mendorong dosen untuk melanjutkan studi doktoral serta meningkatkan kompetensi profesional, termasuk melalui sertifikasi dosen.
Di sisi lain, kolaborasi yang dibangun universitas juga berdampak pada peningkatan akses pendidikan bagi mahasiswa. Salah satunya melalui perolehan sekitar 400 kuota KIP Kuliah, yang menjadikan UPG 1945 NTT sebagai salah satu perguruan tinggi swasta dengan penerima KIP Kuliah terbanyak di NTT.
“Kolaborasi yang dibangun dengan perencanaan yang baik telah membuka akses pendidikan bagi anak-anak NTT,” ujarnya.
Uly berharap, dengan berpegang pada nilai, perencanaan, dan kolaborasi, UPG 1945 NTT dapat bergerak maju secara bertahap menuju kampus unggul dan berdaya saing, sekaligus memberi kontribusi nyata bagi pembangunan sumber daya manusia di Nusa Tenggara Timur.
